Beragam alasan mengapa orang bersepeda gunung baik di medan off-road maupun on-road dalam kota. Ada
yang beralasan menjaga kesehatan atau berolah-raga, sekedar hobi,
kebutuhan tranportasi yang ekonomis, mencari nafkah, mengejar prestasi
melalui perlombaan, meningkatkan pergaulan, maupun yang sekedar
mengikuti tren bersepeda gunung.
Cobalah, sekali-sekali berkunjung kelokasi trek JPG (Jalur Pipa Gas)
yang terletak di kelurahan Jombang, seputaran BSD, pada hari sabtu,
minggu atau libur; maka akan ditemui banyak pesepeda gunung dengan
beragam alasannya. Ada
yang menyempatkan waktunya mampir kesini untuk mencicipi trek JPG yang
tersohor, atau sarapan pagi di warung mpok-café sebelum melanjutkan
lagi perjalanannya (touring) ketujuan berikut disekitarnya. Bahkan
ada yang sekedar datang untuk sarapan pagi lalu kembali pulang rumah,
adapula yang datang hanya sekedar “dugem” hingga tengah hari.
Sejak dideklarasikannya Komunitas Pekerja Bersepeda pada 27 Agustus
tahun 2005 lalu, semakin sering kita melihat para pekerja bersepeda. Bersepeda gunung tidak lagi hanya popular untuk kegiatan off-road melainkan juga sebagai sarana transportasi dalam kota (b2w = bike-to-work),
khususnya mereka yang peduli dengan keadaan polusi udara, kemacetan
yang semakin parah, hingga alasan kebutuhan transportasi yang
terjangkau.
Bersepeda gunung kinipun telah dilirik sebagai sarana pergaulan yang tidak mengenal “kasta”, dimana penggemar bersepeda gunung kini telah diminati mulai dari office-boy,
karyawan biasa, manajer hingga pimpinan perusahaan baik swasta maupun
pemerintah, dari bupati hingga pejabat teras pemerintah, dari pegawai
biasa hingga pemilik perusahaan yang berkantor dikawasan segitiga emas
maupun pengusaha yang berkantor di ruko.
Semuanya bergabung dan menyatu ketika roda sepeda mulai menggelinding, “kasta”pun akhirnya ditentukan oleh dengkul dan nafas…
| |
|