Comment yang saya tulis di Facebook @ 26 Sep 2008:
"
http://www.new.facebook.com/inbox/#/note.php?note_id=41202504472&id=1067870876&index=0#comments"Setuju, tulisan ini saya buat sebenarnya 2 tahun yang lalu, dimana kasta sepeda mahal, pengendara eksekutif dan non eksekutif belum membaur seperti saat ini. Sehingga pada saat itu, "kasta" pun akhirnya digeser kearah kemampuan bersepeda: dengkul dan napas. Meskipun pada kenyataannya saat ini, sekalipun "kasta" itu ada tapi keberadaan-nya tiada.... biasa dikenal adanya itu adalah tiada ... ;-)
Sudahlah... jangan bahas kastanya, toch bagaimanapun itu tetap tidak bisa dihilangkan; yang lebih penting bagaimana dengan bersepeda kita bisa bangun kebersamaan sekalipun kasta-nya berbeda-beda.... ocre.
Lihatlah nikmatnya kala kumpul bareng sesama anggota B2W, tak ada lagi batas atasan dan bawahan, pejabat maupun staff, yang lebih kaya dengan yang kurang, semuanya mengayuh pedal sepeda dan menggelinding di aspal yang sama.
Di medan offroad, lihatlah mereka yang dengan stamina lebih kuat rela menunggu yang kemampuannya tidak terlalu istemewa.
Lebih dari itu, antara pesepeda dengan pengguna kendaaraan bermotorpun (mobil & sepeda motor) sudah mulai terbentuk toleransi positip ketika bertemu dijalan.
Lalu masihkah pemerintah, mengabaikan keberadaan pesepeda sebagai bagian dari transportasi. Sekedar tanda rambu lalu lintas "sepeda" saja, bisa membantu meng-sosialisasikan keberadaan pesepeda di jalan.
Mariiiii....!