Ozy's Corner: Human-powered Commutes

Blog EntryKenapa Bersepeda GunungOct 7, '06 6:11 PM
for everyone
Beragam alasan mengapa orang bersepeda gunung baik di medan off-road maupun on-road dalam kota. Ada yang beralasan menjaga kesehatan atau berolah-raga, sekedar hobi, kebutuhan tranportasi yang ekonomis, mencari nafkah, mengejar prestasi melalui perlombaan, meningkatkan pergaulan, maupun yang sekedar mengikuti tren bersepeda gunung.

Cobalah, sekali-sekali berkunjung kelokasi trek JPG (Jalur Pipa Gas) yang terletak di kelurahan Jombang, seputaran BSD, pada hari sabtu, minggu atau libur; maka akan ditemui banyak pesepeda gunung dengan beragam alasannya. Ada yang menyempatkan waktunya mampir kesini untuk mencicipi trek JPG yang tersohor, atau sarapan pagi di warung mpok-café sebelum melanjutkan lagi perjalanannya (touring) ketujuan berikut disekitarnya. Bahkan ada yang sekedar datang untuk sarapan pagi lalu kembali pulang rumah, adapula yang datang hanya sekedar “dugem” hingga tengah hari.


Sejak dideklarasikannya Komunitas Pekerja Bersepeda pada 27 Agustus tahun 2005 lalu, semakin sering kita melihat para pekerja bersepeda. Bersepeda gunung tidak lagi hanya popular untuk kegiatan off-road melainkan juga sebagai sarana transportasi dalam kota (b2w = bike-to-work), khususnya mereka yang peduli dengan keadaan polusi udara, kemacetan yang semakin parah, hingga alasan kebutuhan transportasi yang terjangkau.

Bersepeda gunung kinipun telah dilirik sebagai sarana pergaulan yang tidak mengenal “kasta”, dimana penggemar bersepeda gunung kini telah diminati mulai dari office-boy, karyawan biasa, manajer hingga pimpinan perusahaan baik swasta maupun pemerintah, dari bupati hingga pejabat teras pemerintah, dari pegawai biasa hingga pemilik perusahaan yang berkantor dikawasan segitiga emas maupun pengusaha yang berkantor di ruko.

Semuanya bergabung dan menyatu ketika roda sepeda mulai menggelinding, “kasta”pun akhirnya ditentukan oleh dengkul dan nafas…
Image

sakurabacafe wrote on Feb 14
bagus infonya nie
ozy1 wrote on Sep 26
Comment yang saya tulis di Facebook @ 26 Sep 2008:
"http://www.new.facebook.com/inbox/#/note.php?note_id=41202504472&id=1067870876&index=0#comments"

Setuju, tulisan ini saya buat sebenarnya 2 tahun yang lalu, dimana kasta sepeda mahal, pengendara eksekutif dan non eksekutif belum membaur seperti saat ini. Sehingga pada saat itu, "kasta" pun akhirnya digeser kearah kemampuan bersepeda: dengkul dan napas. Meskipun pada kenyataannya saat ini, sekalipun "kasta" itu ada tapi keberadaan-nya tiada.... biasa dikenal adanya itu adalah tiada ... ;-)

Sudahlah... jangan bahas kastanya, toch bagaimanapun itu tetap tidak bisa dihilangkan; yang lebih penting bagaimana dengan bersepeda kita bisa bangun kebersamaan sekalipun kasta-nya berbeda-beda.... ocre.

Lihatlah nikmatnya kala kumpul bareng sesama anggota B2W, tak ada lagi batas atasan dan bawahan, pejabat maupun staff, yang lebih kaya dengan yang kurang, semuanya mengayuh pedal sepeda dan menggelinding di aspal yang sama.

Di medan offroad, lihatlah mereka yang dengan stamina lebih kuat rela menunggu yang kemampuannya tidak terlalu istemewa.

Lebih dari itu, antara pesepeda dengan pengguna kendaaraan bermotorpun (mobil & sepeda motor) sudah mulai terbentuk toleransi positip ketika bertemu dijalan.

Lalu masihkah pemerintah, mengabaikan keberadaan pesepeda sebagai bagian dari transportasi. Sekedar tanda rambu lalu lintas "sepeda" saja, bisa membantu meng-sosialisasikan keberadaan pesepeda di jalan.

Mariiiii....!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help