Ozy's Corner: Human-powered Commutes

Blog EntryB2W vs. Polusi UdaraOct 26, '06 6:21 PM
for everyone
Alasan utama orang enggan melakukan bike-to-work selain kondisi lalu-lintas yang semerawut adalah bahaya polusi udara terhadap kesehatan. Banyak yang mengatakan para pesepeda sebagai orang gila yang mau bunuh diri. Khususnya di kota Jakarta yang konon kabarnya adalah kota no.3 ter-polusi di dunia.

Lalu diantara pemakai jalanan seperti pengguna sepeda motor, mobil, metromini, bajay atau bus, apakah pengendara sepeda menjadi korban yang terparah?

Ingat, kita semua termasuk pejalan kaki, hewan dan tanaman yang berada di kota besar seperti Jakarta, sebenarnya sudah menjadi KORBAN POLUSI UDARA yang kita produksi setiap saat, setiap hari, setiap tahun, bahkan mungkin sepanjang hayat.

Yang terparah sudah bisa dipastikan adalah pengguna jasa bajay, metromini dan bis. Bagaimana tidak selain seringkali berdesak-desakan, dan menghirup udara terpolusi langsung, ditambah lagi para perokok yang seakan tidak mau peduli dengan aturan larangan merokok ditempat umum *&^%&^$@!

Pengguna mobil, jangan dikira kalau sudah pakai AC lalu bisa bebas polusi, belum tentu loh. Kebersihan dalam mobil yang jarang dibersihkan seringkali menjadi sarang yang nyaman bagi bakteria udara terutama pengguna taxi. Kondisi mobil yang tidak lagi baru dan prima menyebabkan udara luar masuk dengan mudah dan ini yang kita hirup .... belum lagi kalau kondisi jalan lagi macet-macetnya.

Pengendara sepeda motor, sepanjang mereka masih dapat bergerak mencari udara lebih segar, masih lebih lumayan; makanya disetiap lampu merah mereka selalu berusaha merangsek kedepan sampai melewati batas berhenti. Hanya saja di Jakarta kalau lagi macet, motor-pun kerap kali turut menderita, dan apesnya lagi mereka menghirup udara ”segar” yang terkontaminasi polusi asap knalpot.

Bagaimana dengan pengendara sepeda?

Para pekerja bersepeda hampir dipastikan berusaha untuk menghindari jalur yang pengap dengan polusi udara, mereka lebih tertarik mencari jalan alternatif yang jarang dilalui kendaraan bermesin, bahkan tidak jarang masuk ke jalan-jalan ”tikus” untuk mencari jalur yang rendah polusi. Belum lagi sepeda yang ringan dan lincah memungkinkan untuk selalu bergerak dikepadatan lalu lintas.

Keuntungan lain bagi para pesepeda adalah secara tidak langsung telah melakukan olah-raga memperkuat otot, mengurangi lemak, melatih koordinasi keseimbangan dan juga meningkatkan kemampuan cardio. Dan ini jelas membutuhkan oxygen yang lebih banyak dibandingkan mereka yang pasif, duduk dalam mobil atau kendaraan umum. Bagusnya bagi ”olahragawan” sepeda, mereka menghirup dan menghembuskan lebih banyak udara dibandingkan mereka yang pasif tadi dalam satuan waktu yang sama. Sehingga hazardous particles tidak sempat mengendap di paru-paru dan salurannya.


Bagaimana mengurangi efek polusi udara ketika bersepeda?

Tidak seperti kebanyakan pengguna sepeda motor yang menggunakan kain sebagai masker atau masker kasa. Para pekerja bersepeda sudah banyak yang menggunakan masker khusus untuk racun ringan yang dapat ditemukan dengan mudah ditoko bangunan dengan harga cukup terjangkau (sekitar 30-40ribu + 4500 untuk replaceable filter-nya). Memang pada awalnya menggunakan masker ini membuat bernafas menjadi sulit, tapi setelah beberapa kali, biasanya kendala ini bisa diatasi.

Hasil penelitian ilmiah dibelahan bumi lain berikut ini juga membuktikan bahwa pengguna mobil ternyata lebih beresiko terkena efek polusi udara lebih parah dibandingkan pesepeda.

Differences in cyclists and car drivers exposure to air pollution from traffic in the city of Copenhagen.

Rank J, Folke J, Jespersen PH. University of Roskilde, Department of Environment, Technology and Social Studies, Denmark. jr@ruc.dk

It has frequently been claimed that cycling in heavy traffic is unhealthy, more so than driving a car. To test this hypothesis, teams of two cyclists and two car drivers in two cars were equipped with personal air samplers while driving for 4 h on 2 different days in the morning traffic of Copenhagen. The air sample charcoal tubes were analysed for their benzene, toluene, ethylbenzene and xylene (BTEX) content and the air filters for particles (total dust). The concentrations of particles and BTEX in the cabin of the cars were 2-4 times greater than in the cyclists' breathing zone, the greatest difference being for BTEX. Therefore, even after taking the increased respiration rate of cyclists into consideration, car drivers seem to be more exposed to airborne pollution than cyclists.


Health Promotion Journal of Australia 2004;15:63-7:

Issue addressed: International studies have consistently found that exposure to air pollutants is higher inside cars than outside. However, few studies have compared personal exposure to air pollutants by travel mode focusing on usual travel patterns.

Objectives: To compare the exposure to benzene, toluene, ethylbenzene and xylene (BTEX) and nitrogen dioxide (NO2) for commuters in central Sydney for five different commuting modes.

Results: The highest pollutant levels for all four BTEX pollutants were found for car commuters. Train commuters recorded the lowest pollutant levels for all four BTEX pollutants and NO2, and these levels were significantly lower than that for car commuters. Commuting by bus recorded the highest levels for NO2. Walking and cycling commuters had significantly lower levels of exposure to benzene compared with car commuters and significantly lower levels of NO2 than bus commuters.

Conclusions: The results of this study are consistent with the findings of studies in other cities and found elevated levels of exposure to motor vehicle-related pollutants in roadway microenvironments. Strategies that encourage commuting by train, walking and cycling should be supported as this reduces population exposure to motor vehicle-related pollutants.


Terlampir beberapa referensi terkait dengan pembahasan di atas;

1. Carnall D. Cycling and health promotion. A safer, slower urban road environment is the key. BMJ 2000; 320: 888. 2. Mersy DJ. Health benefits of aerobic exercise. Postgrad Med 1991; 90: 103-7 and 110-2. 3. Kelley GA. Effects of Aerobic exercise in normotensive adults: a brief metaanalytic review of controlled clinical trials. South Med J 1995; 88: 42-46. 4. http://www.nationalcyclingstrategy.org.uk/Health.pdf 5. Rutter H. Modal shift. Transport and health. A policy report on the health benefits of increasing levels of cycling in Oxfordshire 6. Leeds cycling action group. Cycling and Health 7. Scully D, Kremer J, Meade MM et al. Physical exercise and psychological wellbeing. In MacAuley D (Ed.) Benefits and hazards of exercise. London: BMJ Books 1999. 8. Fentem PH. ABC of sports medicine. Benefits of exercise in health and disease. BMJ 1994; 308: 1291-5. 9. Joakimsen RM, Magnus JH, Fonnebo V. Physical activity and predisposition for hip fractures: a review. Osteoporosis Int 1998; 7: 503-13. 10. Rank J, Folke J, Jespersen PH. Differences in cyclists and car drivers exposure to air pollution from traffic in the city of Copenhagen. Sci Total Environ 2001; 279: 131-6.


Tambahan info dari Asep Siregar (asepsiregar@gmail.com):

Usia pemakaian secara filter (bahasanya Om Benny), tergantung pada:

1. Luas area permukaan filter (A=area, cm2 ) 2. Kecepatan udara rata-rata melewati media filter (V=Velocity, liter/menit)
Dari perkalian keduanya didapat: Flow Rate (volumetric) = Q

Q = V x A

Diameter pori2 filter biasanya dalam micron atau micrometer. (1 micron = 10-6 meter)

Hubungannya dengan rumus diatas:

Pada A yg sama, bila ukuran micron pori2 semakin kecil, maka V akan semakin kecil sehingga Q akan semakin kecil.

Jadi, bila yg akan ditangkap adalah solid particle, maka micron size bisa dicari yg cukup untuk menangkap debu saja. Konsekuensinya, gas2 berbahaya seperti oksida2 carbon dari asap kendaraan bisa langsung masuk.

Kalo mau yg bisa mereduce gas, maka manufacturer filter media biasanya menyediakan dengan ukuran pori yg lebih kecil. Konsekuensinya, volumetric flowrate akan semakin kecil, alias filter media jadi cepat buntu.

Analoginya, bisa disamakan lubang golf ketutup sama truk container atau bahkan lebih.

Namun demikian, ada dua cara untuk memperpanjang usia filter media utk gas filtration, yaitu dengan menambahkan filter debu di depannya atau dengan menggunakan adsorber.

Untuk gas, sebaiknya digunakan media seperti karbon aktif. Fungsinya, selain sebagai filter, dapat juga sebagai adsorber. Menurut literatur: 1 cm3 activated carbon bisa mempunyai luas area hingga 500m2! Heibatnya, karbon aktif bisa dicuci ulang trus dire-aktifasi dengan cara dikukus.

So, lamanya pemakaian filter untuk open athmosferic area, tidak bisa ditentukan dengan waktu. Jadi, kalo udah merasa mampet, segera diganti. Ada beberapa filter yang bisa dicuci, tapi dari arah sebaliknya dan jangan sering2.

====================================================================

Dikutip sesuai aslinya dari milis b2w-Indonesia:

2008/2/5 Andreas A. Prasadja <dr_adeprasadja@yahoo.com>:
Masker perlu tidak? Perlu!!!

Menurut seorang pakar keselamatan kerja. Penggunaan masker untuk
industri lebih mudah diprediksi sehingga penggunaan masker pun dapat
disesuaikan dengan polutan di tempat tersebut. Sedangkan di jalan raya
Jakarta, sudah tidak bisa diprediksi.

Pertama, jelas debu Jakarta luar biasa (heran juga di kota2 di negara
maju bisa minimal debu??) Coba saja B2W tanpa masker, kotoran hidung
pasti jadi hitam pekat.

Kedua, kandungan gas2 polutan di Jakarta juga sudah tidak sehat.
Menurut beliau, idealnya pengendara motor dan pejalan kaki di Jakarta
sudah harus pakai masker.

Sekarang, masker macam apa?

Dulu saya pakai surgical mask (gratis ambil di tempat kerja hehehe..)
Nafas terasa enak, tapi segala macam bau luar biasa mengganggu nafas.
Apalagi jika sudah berkeringat, masker ini jadi terasa menyesakkan.
Debu juga terkadang masih dapat masuk.

Di pagi hari, terutama di hari Sabtu saya menggunakan masker seperti
yg dipakai pengendara motor, dengan asumsi belum begitu banyak
kendaraan sehingga hanya untuk menahan debu. Masker yang seperti cup
bra ini cukup nyaman digunakan. Tetapi pada merk tertentu, masker ini
terlalu ketat menutup hidung dan mulut sehingga tidak ada ruang bebas
bagi lalu lintas udara di hidung atau mulut. Akibatnya nafas kurang
lancar. Lagi pula, masker jenis ini tidak menyediakan out put bagi CO2
buangan nafas, sehingga banyak CO2 yg terhirup lagi. Di medis ini
disebut re-breathing.

Dengan meningkatnya volume kendaraan bermotor, baik pagi maupun siang
saya menggunakan masker moncong babi. Bahan karetnya yg kaku justru
memberi ruang udara yg luas, sehingga aliran udara mengalir bebas
dari/ke hidung atau mulut. Masker ini juga mempunyai katup pembuangan
udara sehingga CO2 juga dapat keluar dari masker. Coba saja setelah
sprint beberapa saat, nafas yg terengah-engah dapat cepat kembali
normal dengan menggunakan masker ini. Bandingkan dengan masker kain
(motor,) laju nafas baru kembali normal setelah beberapa waktu; lebih
lama dibanding masker moncong babi.

Tarikan nafas pun dapat dengan mudah melewati filter. Jenis filter 201
hanya digunakan untuk lingkungan berdebu, sedangkan 203 dan 206 dapat
juga menahan gas berbahaya. Hanya saja 206 terlalu ketat, sehingga
menyulitkan nafas ketika bersepeda. Jadi yg terbaik untuk B2W yg 203
lah...

Image masker hitam dengan berbahan kaku ini sering kali membuat kita
berpikir bahwa kita akan sulit bernafas menggunakannya. Sebenarnya
tidak, karena justru nafas lebih aman dan leluasa dengan menggunakan
masker ini. Rasa sesak hanyalah bersifat sementara.

Saya juga pernah meminjam portable oxygen concentrator dalam bentuk
tas kecil. Dengan masker RS saya coba bersepeda di sekitar tempat
kerja. Awalnya memang terasa segar dan nyaman, tapi lama-lama nafas
terasa berat. Sebabnya, untuk bernafas kita memerlukan rangsang dari
CO2. Ketika terlalu banyak O2 dan tubuh kekurangan CO2, nafas justru
jadi berat dan melambat. Saya juga tidak tahu, mungkin juga pemilihan
masker yg salah (untuk orang sakit, bukan buat berolah raga.) Tapi
dengan tingkat polusi seperti di Jakarta rasanya perlu dikembangkan
masker dengan oxygen concentrator khusus untuk ber-B2W... hahahahahahaha

Walaupun ada dokter ahli paru yg bilang percuma pakai masker di jalan,
tetapi yg dimaksudkan adalah penggunaan masker kain pada pengendara
motor. Sedangkan buat kita yg bersepeda, laju nafas kita lebih cepat
sehingga diasumsikan gas polutan hanya numpang lewat di bagian awal
jalan nafas. Nah untuk meminimalkannya... tidak ada jalan lain selain
menggunakan masker; tentu saja, untuk sementara ini, masker yg paling
tepat adalah masker moncong babi.

Intinya: tetep pake masker...!!!

Andreas


goshgosh wrote on Nov 5, '06
yah kalo saya sih begitu sampai rumah siap2 susu aja buat detox :)
fadliansyah wrote on Nov 27, '07
met kenal, saya b2wer dr cibinong minta izin copy artikelnya yaa... thanx
www.aboutbike.info
ozy1 wrote on Nov 29, '07, edited on Nov 29, '07
Monggo silahkan om Muhklis...
wisat wrote on Jan 15
ozy1 said
Hasil penelitian ilmiah dibelahan bumi lain berikut ini juga membuktikan bahwa pengguna mobil ternyata lebih beresiko terkena efek polusi udara lebih parah dibandingkan pesepeda.
Om,

Minta izin untuk reposting di blog saya: http://wisat.multiply.com

Thanks
ozy1 wrote on Jan 15
wisat said
Om,

Minta izin untuk reposting di blog saya: http://wisat.multiply.com

Thanks
Monggo silahkan om Djaja, semoga bermanfaat bagi yang lainnya.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help