Link: http://kompas.com/ver1/Kesehatan/0608/30/150650.htmRabu, 30 Agustus 2006 - 15:06 wib
Bersepedaaa ... ke Kantor!
Menjadikan sepeda sebagai gaya hidup di Indonesia sepertinya masih sebatas angan-angan belaka. Padahal, selain mengurangi polusi dan kemacetan, bersepeda membuat badan jadi bugar!
Di Belanda, Inggris, dan Jepang, bersepeda sudah menjadi gaya hidup masyarakat. Hampir di setiap jalan terlihat orang bersepeda. Pergi ke kantor, sekolah, belanja, atau bersantai. Selain menjadi olahraga, sepeda juga sudah menjadi alternatif alat transportasi.
Salah seorang rekan yang pernah bertugas di London, memilih sepeda sebagai sarana transportasi sepulang ke Jakarta. “Lebih cepat dan lebih enak. Malah bisa sambil menikmati pemandangan,” ujarnya.
Di Indonesia, sepertinya bersepeda belum jadi bagian dan hidup sehari-hari. Dulu, di beberapa daerah seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta, banyak orang memanfaatkan sepeda untuk alat transportasi. Sayangnya, kini sepeda sudah semakin tergeser oleh sepeda motor.
Di Jakarta, sepeda sebagai sarana transportasi sama artinya dengan bertarung melawan mobil, motor, angkot, dan bus, yang suka kebut-kebutan. Juga tentunya dengan polusi asap kendaraan bermotor. Sebetulnya ini bisa direduksi dengan menggunakan masker, tetapi partikel dan polutan itu mungkin saja masih bisa terisap.
Sebenarnya banyak orang di Indonesia yang gemar sepeda sedari kecil. Toto Sugito salah satunya. Sejak kecil ia sangat senang bersepeda. Saat kuliah, beberapa kali ia bersepeda untuk berkencan.
“Karena saya nggak punya kendaraan. Yang saya punya hanya sepeda. Jadi, ya pakai sepeda ngapel-nya,” kata direktur sebuah perusahaan konsultan arsitektur ini.
Suatu saat lulusan Teknik Mesin ITB ini sakit lever. Dokter menyarankan agar ia tak lagi bermain basket. Olahraga favoritnya sejak masa sekolah pun ia tinggalkan.
Sembuh dari sakit lever, barulah ia menekuni mountain bike yang masih terbilang low impact. Hampir setiap akhir pekan, berbagai tempat yang ada “hutan kecil nya” didatangi dengan teman-teman sealiran untuk bersepeda gunung. Setelah giat bersepeda, Toto merasakan tubuhnya makin bugar dan sehat.
Ditentang Istri
Dari komunitas sepeda gunungnya ini kemudian digagas tradisi bersepeda ke kantor yang diistilahkan sebagai bike to work. Jadilah penggemar basket ini bersepeda ke kantor, mulai tahun 2004.
Walau tidak tiap hari, saat masih tinggal di Kota Wisata, Cibubur, Jakarta Timur, ia bolak-balik ke kantornya di Tebet, naik sepeda. “Kalau naik mobil bisa 2 jam. Dengan sepeda hanya 1,5 jam, kata ayah tiga anak ini.
Rute yang dilalui yaitu Kota Wisata-Ciangsana-Cilangkap-TMII-Halim atau Kramat Jati- MT Haryono atau Cililitan-Tebet. “Nggak capek. Itu hanya masalah kebiasaan saja dan semangat. Mesti dicoba dulu untuk merasakan enaknya,” katanya. Sekarang ia dan keluarga tinggal di Tebet. Jadinya, pria berusia 43 tahun ini mengakali jarak yang terlalu dekat itu dengan mengubah rute bersepeda supaya lebih jauh. Rute yang dipllih, dari rumahnya ke arah Kuningan. Di sana Toto menyempatkan diri berenang dulu. Setelah itu sepeda digenjot lagi menuju arah Pancoran dan berakhir di kantor.
Mulanya, niat bersepeda ke kantor sempat ditentang oleh istrinya, seorang dokter gigi yang punya spesialisasi di bidang kesehatan masyarakat. Sang istri mengkhwatirkan polusi udara yang sudah jelek di Jakarta.
Toto berusaha meyakinkan istrinya dengan mengatakan kalau ia menggunakan masker. “Berapa persen masker tersebut dapat mengurangi polutan yang masuk?" ucap Toto menirukan tanggapan istrinya.
Perkataan istrinya tersebut ada benarnya. Ia tak menutup mata kalau masih ada polutan yang terhirup, walau jumlahnya tidak terlalu banyak. Untuk itulah, ia pun memesan masker berkualitas sangat baik dari London via Internet.
Selain masker, alasan mengurangi polusi pun digunakan untuk meyakinkan istrinya. “Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Ini ‘kan juga untuk anak-cucu kita,” ujar Toto mengutarakan hal tersebut.
Walau sudah tak banyak berkomentar tentang kesenangan Toto bersepeda ke kantor, istrinya masih belum berani ikut bersepeda. Malah anak sulungnya yang bersekolah di Kanisius mulai ikutan bersepeda. Meski tak teratur, beberapa kali anaknya bersepeda ke sekolahnya yang terletak di Menteng.
Berhasil Diracuni
Bersepeda ke kantor tak hanya didominasi kaum laki-laki. Perempuan juga bisa melakukannya. Seperti yang dijalani Nining. Sebelumnya, bersepeda ke kantor hanya sebatas angan-angan saja.
Angan-angan itu muncul saat Nining sedang naik bus ke kantor dan terjebak macet. Sempat terbersit dalam pikiran Nining, “Enak kali ya, naik sepeda ke kantor.”
Pikiran aneh itu segera ia enyahkan karena kemudian hal lain muncul dalam benaknya. “Kalau naik sepeda berarti mesti bawa baju ganti terus mandi. Duh, males juga,” ucap Nining.
Namun, dua tahun kemudian, keinginan untuk bersepeda muncul lagi. Waktu itu, Februari 2006, ia melihat komunitas pekerja bersepeda di televisi. Nining pun teringat akan keinginannya. Selang beberapa lama, saat dibonceng motor oleh adiknya, ia melihat seorang yang sedang asyik bersepeda melintas di sampingnya. Ini dilihatnya selama beberapa hari berturut-turut. “Dan ternyata, orang itu satu kantor dengan saya,” ujar editor komik ini. Teman barunya yang bernama - Joseph itu pun lantas meracuni Nining untuk mulai bersepeda ke kantor. Dua minggu kemudian, ia diajak Joseph menemani salah seorang teman lainnya untuk membeli sepeda di Ciputat.
“Waktu itu, nggak tahu kenapa saya pamit sama ibu mau beli sepeda. Eh, nggak tahunya saya diracunin lagi dan akhirnya memang beli sepeda, komplet,” ungkap perempuan berusia 37 tahun ini seraya tertawa.
Total Rp 1,7 juta dikeluarkan untuk membayar sepeda rakitan, pompa, helm. Pokoknya komplet.
Baru dua hari kemudian Nining membulatkan tekad untuk berangkat ke kantor naik sepeda. Jarak dari rumahnya di Lebak Bulus ke kantornya di Palmerah ditempuh dalam waktu 50 menit.
Di sepanjang jalan, ia bisa melambaikan tangan pada kemacetan. “Ya, lumayan. Sayangnya, gara-gara naik sepeda, di kantor seharian saya ngantuk berat,” katanya. Untungnya, kali kedua ia bersepeda, badannya sudah kembali normal. Ia tidak mengantuk.
Setelah rutin bersepeda ke kantor, Nining mengaku tubuhnya terasa lebih bugar dan enteng. Ia memang belum mengukur berat badannya turun seberapa banyak. "Tetapi, celana saya banyak yang longgar. Kata teman-teman, saya terlihat kurus,” ujarnya.
Sekarang, paling tidak tiga kali seminggu Nining bersepeda ke kantor. Beberapa kali ia bersama Joseph, tetapi kadang kala mesti bersepeda sendiri. Kalau sendirian, biasanya telinganya dijejali musik yang keluar dari pemutar MP3.
“Lebih enak, bisa nyanyi-nyanyi sendiri,” katanya. Nining mengaku masih suka bandel. “Kadang-kadang saya nggak pakai masker. Karena kebiasaan saja kali, ya. Masker tuh kadang bikin ngos-ngosan, jadi malah saya gantungkan di leher. Kalau banyak asap, baru saya pakai. Ya, sãya tahu, nggak bagus sih” tuturnya.
Untuk itu, sedapat mungkin ia menghindari asap kendaraan bermotor yang ngebul, dengan tidak berada di belakang bus atau motor. Saat ini Nining sedang belajar mengganti ban sendiri. ”Biar nggak ngrepotin orang kalau ban kempes,” ucapnya.
Kalau mereka sudah menjadikan sepeda sebagai bagian dari gaya hidup, kapan giliran Anda? Jika setengah saja dari kita beralih ke sepeda, dijamin kemacetan dan polusi di kota bakal turun, Yuk, mulai bersepeda! @ Diana Yunita Sari
Alamat Sekretariat Bike to Work: JI. Duren Tiga Barat No.5 Mampang Prapatan - Jakarta 12760 Telp. (021) 915-1923, Faks. (021) 791-80944 E-mail: info@b2w-indonesia.org Mailing list: http://yahoogroups.com/group/b2w-indonesia Website: http://www.b2w-indonesia.org
 | bersepeda.. membuat sehat dan senang.. :) |
 | yg nulis ikutan sepeda juga nggak ya? |
 | om Ozy, selamat menunaikan ibadah haji semoga menjadi haji yang mabrur.. lupain sepeda dulu om :) labaik Allah huma Labaik labaik la sharikalakalabaik, inal hamda wanimata lakalamulk la sharikalalk |
 | udey wrote on Nov 12, '06 om ozy mo naik haji? selamat ya... semoga sehat selama di tanah suci.. dan menjadi haji mabrur.. selamat om... |
 | ozy1 wrote on Nov 12, '06 Trima kasih satucylcing team dan um Udey atas doanya, insya Allah berangkat dari Jakarta hari senin, 11 Des 2006. Iya urusan sepedah lagi didelegasikan ke teman2 yang lain, tapi kalau sepedaan sich rutin karena memang olah raga saya. Sekali lagi mohon maaf ya kalau ada hal-hal yang tidak berkenan selama kita berinteraksi. |
 | Pak Ozy, ikut mendoakan semoga perjalanan hajinya lancar dan tak ada halangan selama di tanah suci. Kapan berangkatnya? Bulan depan insya Allah saya dan keluarga ke Jakarta untuk suatu keperluan. |
 | ozy1 wrote on Nov 14, '06, edited on Nov 14, '06 Insya Allah, hari Senin 11 Dec 2006 pak Pandji, terakhir ngantor tanggal 01 Dec biar ada waktu buat beres2 dan persiapan mental juga. Mudah2an kita bisa ketemuan, salam buat ibu... kangen nich dengan lauk ikannya :-) |
 | mewakili teman teman acc saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah haji, semoga kembali kelak menjadi haji yang mabrur, walau ngga pernah ketemuan (genjot bareng) tapi terus terang tulisan om ozy sering saya jadikan referensi (contekan) saat temen2 nanya hal hal tentang sepeda, makasih |
 | ozy1 wrote on Nov 21, '06 Terima kasih atas doanya. Syukurlah kalau tulisan-tulisan yang ada bisa membuat lebih banyak lagi yang mau bersepeda, khususnya sebagai sarana transportasi. Semoga tahun depan, sekali2 kita bisa genjot bareng. |
| |