Ozy's posts with tag: campus
Link: http://aswi.multiply.com/journal/item/22/Selayang_Pandang_Bike_to_Work...Disalin sesuai aslinya dari, http://aswi.multiply.com
Jika Anda tinggal di Jakarta, cobalah sekali-kali memantau Jl. Sudirman di pagi atau sore hari. Lihatlah baik-baik keadaan lalu-lintas di jalan itu. Abaikan kendaraan bermotor yang beroda dua, empat, atau lebih yang lewat. Abaikan pula kendaraan non motor di mana empunya kendaraan juga masih tetap berjalan kaki. Tapi perhatikan kendaraan non motor yang melaju (boleh dikatakan) cepat di antara kendaraan bermotor, beroda dua, dan pengendaranya berpakaian layaknya sedang berolahraga. Memakai helm, sepatu, sarung tangan, kacamata, pakaian ringkes, dan ransel.
Ya, kendaraan itu adalah sepeda. Dan pengendaranya sebenarnya bukan sedang berolahraga (kendati mereka semua sepakat kalau apa yang mereka lakukan adalah berolahraga), melainkan sedang berangkat kerja atau istilah kerennya adalah Bike to Work (B2W). Apa?! Mereka berangkat kerja dengan bersepeda? Apakah mereka orang tidak punya? Tidak juga, karena sebagian dari mereka adalah para pengusaha muda. Jadi, mereka pun sebenarnya punya motor dan bahkan mobil di rumahnya. Tapi kenapa bersepeda?
Sepeda dan Manfaatnya World Health Organization (WHO), salah satu organisasi PBB yang bergerak di bidang kesehatan menyebutkan, bersepeda merupakan aktivitas fisik yang murah dan cocok untuk menjaga kesehatan yang bisa dilakukan untuk tujuan kerja, sekolah, dan lainnya. Bahkan studi di Denmark pada tahun 2000 pun mengungkapkan, kegiatan bersepeda ke kantor bisa menurunkan angka kematian sampai 40 persen! Tidak usah diragukan juga kalau sepeda pun telah menjadi salah satu cabang olahraga yang terus dipertandingkan hingga ke tingkat dunia.
Beberapa pesepeda yang pernah mencoba jalur Bandung Utara (jalurnya lumayan ekstrim, baik dari derajat kemiringan maupun jalannya yang offroad) mengatakan, bahwa mereka merasakan kelelahan yang luar biasa dengan berkali-kali berhenti dan menghabiskan berbotol-botol air minum. Pegal-pegal otot pun masih dirasakan hingga berhari-hari setelahnya. Namun setelah dicoba lagi pada jalur yang sama, mereka boleh dikatakan mengalami peningkatan yang berarti. Mereka jarang berhenti, napas sudah tidak terlalu ngos-ngosan, air minum yang di botol boleh dikatakan lebih awet, dan badan pun tidak pegal-pegal setelahnya. Hasilnya, kawan-kawan yang sering bersepeda sebagai sarana olahraga boleh dikatakan jarang sakit jika dibandingkan dengan yang tidak. Bahkan ada yang mengatakan kalau ada dari mereka yang tidak pernah lagi absen.
Manfaat bersepeda bukan hanya dari segi fisik, namun juga mental. Para peneliti menyatakan bahwa aktivitas olah raga yang terbaik adalah gabungan dari olah raga beban seperti fitness dan olah raga gerak seperti bersepeda. Keseimbangan kuantitas dan kualitas dalam melakukan orah raga beban dan olah raga gerak akan menghasilkan pembakaran lemak dan di sisi lain massa otot tubuh bertambah. Tentu saja hal tersebut sangat membantu kita dalam mendapatkan bentuk badan yang ideal.
Bukti menunjukkan bahwa ditinjau dari segi fisik, bersepeda dapat menurunkan resiko kita mengidap penyakit-penyakit akibat dari hipokinetik (hipo = rendah, kinetik = gerak) seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, rapuh tulang, lemah dan kaku otot, serta obesitas. Setiap kali dan bila dilakukan secara teratur, bersepeda akan memperlancar peredaran darah dan membakar lemak. Penelitian menunjukkan bahwa satu jam bersepeda (21 km/jam) dapat membakar lemak hingga sebanyak 612 kalori!
Bersepeda justru dapat meningkatkan stamina tubuh. Kaki kita akan menjadi kuat karena dengan bersepeda tentu saja kita membuat orot-otot kaki, terutama quadricep dan otot calf bekerja. Kaki yang kuat akan sangat membantu kita untuk dapat bergerak ke sana kemari. Kita tidak akan mudah terpeleset ataupun terjatuh, dan jika terjatuh pun risiko kita patah tulang sangatlah kecil.
Di sisi lain, keadaan saat ini di mana tingkat polusi udara sangat tinggi, alternatif berkendara dengan menggunakan sepeda tentu saja lebih bersih dan sehat dibandingkan dengan kendaraan bermotor. Sepeda tidak menghasilkan asap maupun menimbulkan polusi udara, sehingga kita bisa bernapas dengan lebih lega.
Sebuah penelitian di Australia yang dilakukan pada tahun 2004 dan dipublikasikan dalam Health Promotion Journal of Australia menemukan fakta bahwa pengendara sepeda motor adalah penikmat gas beracun paling tinggi dibanding pengguna jalan lainnya. Sebaliknya, pengendara sepeda adalah penikmat polusi terendah meskipun pengendara sepeda menghirup udara tiga kali lebih banyak dibanding pemakai jalan lain. Praktisi kesehatan dari Victoria, Dr. Jan Garrard, menegaskan bahwa pengendara sepeda lebih mampu bertahan dari dampak buruk polusi udara disebabkan kegiatan fisik yang dilakukannya telah menaikkan sistem kekebalan tubuh.
Penelitian lain yang dilakukan University of Roskilde, Department of Environment, Technology and Social Studies Copenhagen, Denmark, juga membuahkan hasil yang serupa. Hasil pengujian terhadap pengendara sepeda dan pengendara mobil ber-AC di Copenhagen menunjukkan bahwa pengendara mobil menghirup udara beracun lebih banyak dibandingkan pengendara sepeda.
Secara mental, bersepeda dapat membahagiakan suasana hati, menekan depresi, dan menumbuhkan rasa percaya diri serta sportivitas. Bahkan bagi para wanita, bersepeda dapat mengurangi keluhan-keluhan pada masa menjelang menstruasi. Bersepeda dengan menjadikannya sebagai aktivitas sosial, yaitu bersepeda dengan orang lain dapat memberikan nilai tersendiri yang berarti dari segi kehidupan sosial kita.
Jadi, kenapa kita harus mencari sarana lain dalam berolah raga (sementara waktu kita tidak cukup atau sebenarnya lebih dari cukup) kalau kita punya sepeda menganggur di rumah?
Bersepeda di Berbagai Negara New York adalah kota terpadat dari segi lalu-lintas. Boleh dibilang kemacetan adalah kejadian sehari-hari yang tidak perlu diceritakan lagi. Sebagai salah satu kota dari negara maju, mereka pun ternyata tidak menganaktirikan sepeda. Bahkan bikeline atau jalur sepeda pun sudah disediakan. Namun hal ini tidak bisa dijadikan patokan kalau pesepeda di sana sudah dimanjakan. Hampir semua warganya mengatakan kalau bersepeda di Kota New York adalah tindakan bunuh diri. Perlu keberanian yang luar biasa untuk menembus kepadatan lalu-lintas di kota besar itu dengan sepeda.
Loh, ada apa sebenarnya? Pemerintah New York pun akhirnya mengadakan studi banding tentang jalur sepeda ke beberapa kota dunia seperti Koppenhagen, Paris, Amsterdam, Bogota, dan semacamnya. Akhirnya mereka pun mengetahui kalau jalur sepeda di New York salah dalam tata letaknya. Mereka meletakkan jalur sepeda di antara tempat parkir dan jalan raya, sehingga jalur sepeda itu kebanyakan habis untuk tempat parkir dan para pesepeda pun tetap berjuang keras di tengah-tengah jalan raya yang padat. Sementara di kota-kota lain yang dijadikan studi banding, jalur sepeda ditempatkan di antara pedestrian dan tempat parkir. Bahkan antara jalur sepeda dan tempat parkir pun di sediakan pembatas yang aman (sementara di Bogota, pembatas yang dipakai juga ditanami beberapa tanaman yang indah dan menarik).
Bogota adalah ibukota Kolombia, yang berada di Amerika Selatan atau lebih dikenal dengan Amerika Latin. Dengan jumlah penduduk sekira tujuh juta jiwa, Bogota bukan hanya terkenal sebagai kota narkoba, tetapi juga terkenal dengan korupsi para pejabatnya, penculikan, dan tindak kejahatan lainnya yang tidak kalah seram. Tapi itu dulu. Kini Bogota sudah berbeda. Bogota sudah menjadi kota yang lebih baik lagi.
Semuanya berawal pada tahun 1995 saat Bogota dipimpin oleh walikota bernama Antanus Mockus. Ia yang juga merupakan guru besar Matematika Universitas Columbia, berjanji akan mengubah kebiasaan masyarakat Bogota menjadi lebih baik lagi. Janji tersebut kemudian diteruskan dan berusaha diimplementasikan oleh Enrique Penalosa saat terpilih menjadi walikota pada tahun 1998.
Sebelumnya, Bogota memiliki tingkat pengangguran 20%, dan 55% tingkat perekonomian masyarakatnya berada di bawah garis kemiskinan dengan penurunan nilai eksport dan politik yang tidak stabil. Jika dibandingkan, kota dengan tingkat kerusakan dan polusi yang buruk ini tidak lebih baik dari Jakarta. Bahkan, mungkin jauh lebih buruk lagi kondisinya.
Segalanya memang butuh proses. Saat Enrique terpilih menjadi walikota, ia berkata di depan seluruh anggota dewan bahwa membangun kota tidak melulu harus untuk bisnis dan kendaraan, tetapi juga untuk anak-anak, anak muda, dan orang tua. Jadi membangun kota untuk masyarakat luas. Daripada membangun jalan, lebih baik dibangun sarana pejalan kaki dan sepeda yang baik, membuat sistem transportasi umum yang handal, dan mengganti tiang-tiang iklan dengan pepohonan. Tujuannya cuma satu, yaitu kesejahteraan.
Banyak yang tidak memahami bahwa ciri kota yang sakit adalah banyaknya mal-mal yang berdiri karena pembangunan mal dipastikan telah memangkas ruang publik. “Kota yang baik adalah kota yang bisa menyediakan kebahagiaan bagi penduduknya yang bukan diukur dari pendapatan perkapita atau kemajuan teknologinya,” ujar Enrique saat mengunjungi Jakarta. Kota yang baik membutuhkan tempat untuk masyarakatnya dapat berjalan kaki, sehingga mereka bisa berkumpul bersama. Kota yang baik harus menghormati harga diri manusia. Bahkan di kota-kota maju seperti New York, London dan Paris saja, masyarakat masih bisa berkumpul di ruang-ruang publik seperti jalan dan taman kota. Di mana semua orang memiliki hak yang sama. Pembangunan mal hanya menciptakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Mal hanya mencegah orang miskin tidak bisa masuk ke dalamnya. Jadi, ruang-ruang publik seperti jalan-jalan dan taman-taman yang harusnya ditambah. Pembangunan trotoar untuk warga adalah simbol demokrasi yang menunjukkan pemerintah menghargai orang yang berjalan kaki. Mereka sama pentingnya dengan orang yang mengendarai mobil seharga 20 ribu dolar.
Enrique pun mengawalinya dengan memberlakukan pelarangan penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya atau car free day pada Desember 1999 dan memaksa jutaan orang untuk menikmati lampu-lampu natal dari sepeda atau berjalan kaki dengan aman. Langkah berikutnya adalah menerapkan hari bebas kendaraan pada setiap hari kerja. Tidak mudah, karena banyak pula yang menyebut dirinya komunis terutama beberapa pengusaha dan orang kaya. Mereka berusaha untuk menggagalkan usahanya itu. Enrique berkata pada mereka, bahwa ia akan membatalkan kebijakan car free day jika memperoleh suara kurang dari 60% dan mereka setuju. Dan memang pada akhirnya 61% menyetujuinya. Enrique pun juga membuat Transmilenio, yaitu sebuah sistem transportasi baru dalam mengelola angkutan umum atau disebut juga dengan Bus Rapid Transit.
Pada saat car free day diberlakukan, tepatnya pada tanggal 24 Februari 2000 di mana satu setengah juta penduduk melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dan bersepeda, ternyata aktivitas pendidikan dan perekonomian sama sekali tidak terganggu seperti yang dibayangkan sebelumnya. Akhirnya, pada referendum kedua di bulan Oktober 2000, 70% suara menginginkan dilanjutkannya program car free day, bahkan 51% mendukung agar program itu dilakukan setiap hari selama 6 jam.
Untuk melakukan perubahan besar itu, dananya diperoleh dari komponen pajak BBM yang tinggi. Kebijakan ini juga dibarengi dengan kebijakan pembatasan kendaraan dengan sistem plat nomor dan tarif parkir yang tinggi, terutama di perkotaan. Semua perubahan itu bukan tanpa resiko. Seorang politisi memang harus mempersiapkan diri untuk mengambil resiko. Politik harus membuat perubahan. Transmilenio yang diterapkan pun tidak merugikan para penyedia jasa angkutan umum konvensional yang sudah ada. Mereka semua masih beroperasi. Transmilenio telah mengurangi 1 sampai 2 jam waktu tempuh pada koridor yang sama. Saat ini tarifnya hanya 900 pesos yang kalau disetarakan dengan mata uang Indonesia, mungkin hanya sekira Rp.3000 saja. Dengan uang sebesar itu, kita sudah bisa berkeliling Bogota.
Bogota telah membangun 374 km jalan sepeda yang terintegrasi dalam jaringan yang dikenal dengan nama Cyclorrutas, kendati baru terealisasi 270 km. Banyak warganya yang mengatakan, Bogota memang tidak memiliki pantai, tetapi dia memiliki jalur sepeda. Jalur sepeda ini diklaim yang terpanjang di dunia. Coba bandingkan dengan jalur sepeda di Paris yang hanya sepanjang 195 km atau di Lima (Peru) yang panjangnya 43 km. Bogota ingin menjadi kota yang humanis atau ciudad humana. Jadi sudah sepantasnya kalau para pengguna sepeda maupun pejalan kaki dimanjakan. Enrique ingin membuat Bogota menjadi kota yang layak huni, dan ternyata ini bukanlah mimpi. Ia bisa mewujudkannya. Bogota telah mempunyai prasarana pejalan kaki yang luas, prasarana rute sepeda yang baik dan panjang, serta prasarana dan sarana angkutan umum yang handal.
Banyak orang yang menilai kalau sepeda adalah kendaraan untuk orang miskin atau kalangan menengah ke bawah, terutama di negara-negara berkembang. Tetapi kenyataannya banyak pengendara sepeda di beberapa kota besar termasuk di Bogota adalah orang-orang yang mampu, bahkan boleh dibilang orang-orang kaya. Kepedulian mereka terhadap lingkunganlah yang membuat mereka beralih dari kendaraan bermotor ke kendaraan non-motor. Kendaraan bermotor mulai dirasakan dampak buruknya, yaitu menimbulkan polusi udara dan suara, kemacetan di jalanan, memboroskan BBM, dan menyumbang tinggi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Jika hal ini terus berkelanjutan, akibatnya dapat kita rasakan bersama, yaitu BBM untuk generasi mendatang cepat habis, polusi udara sangat tinggi, waktu maupun BBM banyak terbuang sia-sia di jalan karena kemacetan. Dan buktinya, sudah kita ketahui bersama bahwa BBM hampir tiap tahun terus mengalami kenaikan harga. Karena itulah naik sepeda merupakan salah satu alternatif yang paling mungkin dan efisien untuk menghemat energi. Hal ini mengingat sepeda tidak menggunakan BBM sama sekali dan dapat dimiliki oleh semua golongan.
Menurut Jan Ghell, seorang arsitek terkemuka dari Denmark, ada konsep lain dalam membangun jalan, yaitu undangan. Artinya, kalau kita mau mengundang pengendara sepeda, bangunlah jalur khusus sepeda. Namun, kalau mau mengundang pengendara bermotor, bangunlah jalan tol, jalan layang, atau terowongan. Dengan kata lain, jumlah pengendara sepeda secara otomatis akan meningkat bila di kota bersangkutan ada jalur khusus bersepeda. Sebagai contoh di Bogota, sebelum ada jalur khusus sepeda, pengendara sepeda hanya 4% saja. Tetapi setelah ada jalur khusus sepeda, dalam waktu lima tahun sudah naik menjadi 14 persen dari total perjalanan. Apabila tersedia angkutan umum yang aman, nyaman, dan tepat waktu serta tersedia jalur khusus sepeda dan fasilitas pejalan kaki yang aman dan nyaman, maka dengan sendirinya orang akan memilih ketiga fasilitas itu sebagai moda transportasi daripada naik mobil pribadi dan terjebak dalam kemacetan selama berjam-jam di jalan dan memboroskan BBM.
Lajur pedestrian dan sepeda di Bogota telah menjadi bagian penting dari akses lalu lintas. Jalur-jalur pedestrian dan sepeda itu bahkan menembus berbagai kawasan dan permukiman Bogota. Mereka membuat beberapa regulasi yang berkaitan dengan ini. Setiap hari Minggu misalnya, jalan raya dijadikan jalur khusus sepeda yang dikenal sebagai Ciclovias. Jalan itu tertutup untuk angkutan bermotor dan hanya diperbolehkan untuk pedestrian, pesepeda atau peseluncur dengan sepatu roda atau skateboard. Kegiatan ini telah diikuti oleh dua juta orang dan mereka yakin kalau jumlah ini adalah yang terbesar dalam gerakan bebas berkendaraan bermotor di dunia. Kegiatan ini melibatkan seluruh komponen masyarakat. Tua muda, bahkan anak-anak, banyak yang bersepeda, termasuk juga ada yang sembari mengasuh anak balitanya dengan menggunakan sepatu roda atau sepeda mini. Mereka sangat menikmati kegiatan bebas kendaraan bermotor ini.
Warung-warung minum atau makanan ringan, bengkel sepeda sementara sepanjang jalan sepeda, yang hanya buka saat kegiatan itu berlangsung, siap menerima para pengayuh sepeda yang ingin melepas lelah. Begitu juga bengkel sepeda dadakan siap menerima reparasi ringan sepeda warga. Para sukarelawan Ciclovias pun selalu sedia membantu walau hanya untuk mengarahkan jalan atau menghentikan kendaraan bermotor yang akan melintas demi kenyamanan para pejalan kaki atau pesepeda. Untuk mengkampanyekan hal itu, sudah pasti beberapa artis Kolombia diajak untuk turut serta. Dan ternyata, mereka pun bangga dengan kegiatan itu. Mereka meyakinkan warga bahwa bersepeda itu juga modis. Sarana pendukung seperti toilet, bangku untuk beristirahat, hingga tempat parkir sepeda sudah tersedia di pinggir-pinggir jalan. Jembatan penyeberangan pun dibuat meliuk-liuk agar bersepeda menjadi lebih menyenangkan.
Sejarah B2W Indonesia Pada Jum’at sore di bulan November 2005, sebuah pemandangan istimewa (bahkan bisa dikatakan luar biasa) terjadi di Jl. Cikapayang, tepatnya di bawah jembatan layang Pasupati. Ratusan orang beragam usia dan juga sepeda dari berbagai jenis dan merek berkumpul bersama dalam rangka mengkampanyekan sepeda sebagai sarana transportasi yang ramah lingkungan. Adalah Akhmad Riqqi, staf pengajar di Jurusan Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, yang mencetuskan ide itu bersama beberapa kawan dan juga mendirikan Bike Commuter Bandung (BCB), sebuah kelompok sepeda yang anggotanya juga merupakan anggota dari beberapa kelompok sepeda yang sudah ada.
“Sejak BBM naik, memang banyak yang pindah ke motor. Tapi motor juga kan masih bergantung pada BBM. Kita ingin memperlihatkan sepeda bisa menjadi alternatif transportasi supaya Kota Bandung bersih,” ujar Akhmad Riqqi mengenai alasan mengapa kegiatan itu digaungkan. Apalagi, lanjutnya, ada dua faktor penting yang sangat berkaitan, yaitu akibat kenaikan harga BBM dan juga kesadaran untuk hidup sehat dengan menggunakan alat transportasi yang ramah lingkungan (karena tanpa BBM). Sepeda sebagai moda transportasi pun bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk bersekolah, kuliah, dan aktivitas-aktivitas lainnya yang berkaitan. Makanya kegiatan ini memakai slogan “Bike to Work, Bike to Campus, Shared the Road”.
Pada acara itu pula tag kuning yang bertuliskan Bike to Work, Bike to Campus, dan juga Shared the Road dibagikan secara gratis pada pesepeda yang hadir. Bike tag itu juga tidak hanya dibagikan tiap Jum’at sore di Cikapayang, tetapi juga dibagikan di mana-mana oleh para pengurusnya ketika bertemu dengan para pesepeda di Bandung sebagai bentuk kampanye yang berkelanjutan. Jadi jangan heran, jika di jalan-jalan akan banyak ditemui beberapa sepeda yang memakai bike tag berwarna kuning tepat di bawah sadelnya.
Boleh dibilang, sebenarnya acara ini juga merupakan perpanjangan dari kampanye Bike to Work (B2W) yang lebih dahulu dicanangkan di Jakarta oleh Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia, tepatnya pada tanggal 4 Agustus 2004 di Plaza Danamon, yang dihadiri oleh 150 pesepeda. Kampanye yang diprakarsai oleh Anton (alm), Abby, Toto, Ozy, Toufik, Devin, dan kawan-kawan lainnya dari Jalur Pipa Gas (JPG) Mountain Bike itu kemudian dilanjutkan pada Bulan Agustus 2005 yang diikuti oleh 600 pesepeda, sekaligus deklarasi pembentukan B2W Indonesia. Tujuannya tidak lain agar memiliki wadah sendiri dengan tujuan yang jelas, dan sudah tentu akan lebih mudah berkembang. Pada akhirnya, kampanye ini pun mengakumulasi pada acara B2W Day di Bundaran HI pada tanggal 25 Agustus 2006 yang dihadiri sekira 1.300 pesepeda dari seluruh wilayah di Jakarta. Kampanye tersebut terbilang sukses karena menarik perhatian seluruh media cetak dan elektronik nasional.
“Mudah-mudahan kita tidak terlalu terlena dan puas,” ujar Toto Sugito yang saat ini adalah Ketua Umum B2W Indonesia, “(karena) masih banyak dan panjang sekali pekerjaan yang harus kita lakukan untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi alternatif dan juga mewujudkan jalur prioritas sepeda dan fasilitasnya di kota-kota besar pada umumnya dan di Jakarta khususnya. Kesabaran dan konsistensi yang tinggi masih kita butuhkan untuk merealisasikan cita-cita kita.”
Tidak mengherankan jika ia mengungkapkan hal itu, karena sampai saat ini sepeda masih dianggap moda transportasi kelas bawah. Kendati kenyataan itu sudah ditampik dengan beberapa sepeda yang dipakai oleh penggiat B2W yang berharga di kisaran satu sampai lima juta (bahkan ada yang lebih dari sepuluh juta), juga dilihat dari profesi orang-orangnya yang rata-rata adalah eksekutif muda, tetap saja sepeda masih merupakan moda transportasi kelas bawah. Sepeda masih kalah pamor dengan motor atau mobil karena kalah dari segi kecepatan, rawan kecelakaan, tidak tahan polusi, sehingga masih dianaktirikan.
Namun kalau melihat konsep balancing, di mana ada kekurangan berarti masih ada kelebihannya, maka sepeda bagi para pemakainya tetap memiliki kelebihan yang luar biasa di tengah hiruk-pikuknya kendaraan bermotor. Ada yang mengatakan kalau hal ini adalah tantangan dan perjuangan tersendiri yang mengasyikkan, sehingga kelengkapan dalam bersepeda (penggunaan helm, sarung tangan, kacamata, masker, pakaian olahraga, sepatu, krim anti-matahari, dan lain-lain pada akhirnya adalah sesuatu yang wajib dipakai saat bersepeda) pun harus diperhatikan benar. Dan ternyata memang benar, karena banyak yang membuktikan bahwa dengan bersepeda, perjalanan dari rumah ke kantor (kendati jauh sekalipun) jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan kendaraan bermotor mana pun. Hal ini disebabkan oleh banyaknya titik kemacetan terutama di Jakarta di mana bagi pesepeda bukan merupakan halangan.
Perubahan cuaca yang mendadak pun bukan menjadi halangan. Justru hujan menjadi kesenangan tersendiri bagi pesepeda yang sudah merasakannya. Ada kegembiraan yang hanya dapat dirasakan anak-anak saat hujan-hujanan, hingga pada akhirnya ada istilah ‘bebek-bebekan’ di kalangan B2W yang berarti bersepeda hujan-hujanan. Banjir besar yang pernah melanda Jakarta pun bukan halangan yang berarti bagi para pesepeda, karena mereka pun tetap melanjutkan aktivitasnya kendati jalan-jalan di beberapa titik sudah ditutup karena ketinggian air yang sudah tidak bisa ditolerir oleh kendaraan bermotor. Sepeda sebagai kendaraan 2x2 (dua dengkul dan dua roda), mengambil istilah dari Rivo Pamudji, ternyata lebih unggul jika dibandingkan oleh mobil 4x4 yang juga menyerah saat banjir kemarin.
Kelebihan lainnya adalah kenikmatan yang hanya bisa didapat melalui ‘kacamata’ pesepeda saat di jalan. Bagaimana mereka bisa merasakan nilai sosial yang lebih tentang keadaan di sekitarnya (contoh konkritnya adalah inisiatif B2W bekerja sama dengan Cherokee Arung Jeram yang mendirikan pos pelayanan saat banjir di Jakarta, dan juga mengantarkan logistik atau mengungsikan orang-orang yang sudah terjebak banjir dengan menggunakan perahu karet), baik itu sesama pesepeda maupun dengan keadaan lalu lintas yang semrawut.
Di luar itu, tentu saja sepeda merupakan sarana olahraga yang paling efektif jika kita tidak punya waktu luang. Banyak yang beralasan seperti ini, apalagi ternyata banyak yang bilang kalau capeknya sama dengan mengendarai motor yang sering terjebak macet. Namun sepeda lebih unggul, karena keringat yang keluar adalah positif dan pikiran pun bisa lebih fresh. Sepeda adalah dunia 3G, kata Capunk, yang berarti Gowes, Gaya, dan Gembira. Dan dengan bersepeda, banyak yang mengiyakan kalau biaya pengeluaran keluarga per bulan bisa menjadi berkurang. Hemat dapat, sehat pun diraih, persahabatan semakin bertambah. Luar biasa.
Bagaimana dengan jarak yang jauh? “Jarak bukanlah masalah yang berarti,” jawab Okto yang juga salah seorang penggiat B2W. Karena setelah dijalani, sebenarnya dominasi ‘rasa takut’lah yang membentuk blokade hingga membuat manusia menjadi malas untuk bersepeda. Dan setelah dipaksakan untuk bersepeda, jarak yang jauh pada akhirnya bukan lagi menjadi masalah, tetapi justru masalahnya adalah karena terlalu dekat. Nah loh!?
Kini, anggota B2W sudah lebih dari 3000 orang di seluruh Indonesia. Tetapi itu hanya yang terdata saja di sekretariatnya di daerah Mampang Prapatan, sedangkan yang tidak terdata mungkin bisa lebih dari jumlah yang terdata itu. Toto dan segenap keluarga B2W Indonesia boleh bergembira ria karena perjuangan mereka kini mulai menunjukkan hasil yang signifikan, paling tidak hal ini terbukti dari semakin banyaknya orang yang tertarik menggunakan sepeda. Bahkan berbagai kalangan pun sudah membicarakan kemungkinan untuk membuat jalur sepeda di jalan raya.
“Meskipun masih banyak pro dan kontra, paling tidak sudah ada perhatian kepada para pengguna sepeda,” seru Toto. Pria setengah baya yang masih sangat bugar ini percaya bahwa pengurangan penggunaan kendaraan bermotor akan berdampak besar pada berkurangnya polusi udara di bumi. “Kita ingin membuat lingkungan yang lebih sehat dan nyaman di tempat kita hidup ini. Bahkan untuk ke depannya kita menginginkan lebih dari sekadar bike to work, tapi juga bike to school atau bike to go.”
Mungkin kebanyakan dari kita berpikir jauh-jauh untuk mengendarai sepeda di jalan raya, terutama Jakarta, yang begitu padat dan ramai. “Naik mobil aja sering ketabrak, apalagi naik sepeda? Kalau ketabrak, langsung kena badan tuh…,” ujar salah seorang yang pesimis. Uti, salah seorang wanita pesepeda yang juga menjadi humas B2W Indonesia mengatakan bahwa segala kecemasan itu pasti ada. “Tapi jangan khawatir, karena dalam komunitas ini kita bisa berbagi segala macam kesulitan. Mulai dari bagaimana memilih sepeda yang baik, bagaimana tips dan trik menghadapi kendaraan bermotor yang begitu ganas di jalan raya, bagaimana merawat sepeda, termasuk mencari tempat parkir yang aman.”
B2W mempunya banyak sekali kegiatan bersama. Secara rutin mereka berkumpul paling tidak seminggu sekali di titik-titik strategis, biasanya hari Jum’at pagi atau Jum’at sore sepulang kantor. Setelah berkumpul, mereka konvoy sepeda bersama mencari makan (kuliner) atau sekadar mengantarkan rombongan lain ke daerahnya. Selain itu, B2W juga mempunyai event-event besar seperti fun bike, konvoy akbar, pameran mountain bike, dan sebagainya.
Kampanye B2W terus berkelanjutan melalu website, milis, dan blog-blog anggotanya di internet. Bukan secara teori saja, karena mereka semua juga masuk dalam tataran praktik kendati hanya sekali dalam seminggu (bahkan ada yang sudah tiap hari bersepeda). Hal ini dibuktikan dengan mulai tertariknya jajaran pejabat dan juga sampai ke kantor kepresidenan. Pada Jum’at pagi, 24 November 2006, Andi Mallarangeng dan Menristek pun ikut-ikutan bersepeda dari rumah ke kantor, didampingi oleh ratusan anggota B2W.
“Naik sepeda ke tempat kerja harus dieskpos, sebab ide ini sangat bagus diterapkan di kota besar seperti Jakarta,” terang Andi dengan keringat yang masih bercucuran saat ditemui di Kantor Sekretariat Negara. “Apalagi polusi sekarang ini makin tinggi dan macet luar biasa,” imbuhnya yang mengayuh sepeda dari rumahnya di kawasan Cilangkap, Jakarta Timur, yang menempuh jarak 40 km untuk sampai ke kantornya. Awalnya ia memperkirakan akan menempuh perjalanan selama 2 jam, namun dengan kecepatan 29-30 km/jam, ia berhasil mempersingkat waktu selama 30 menit.
Jubir kepresidenan dan Menristek saja mampu, kendati mereka sudah terbiasa dengan mobil ber-AC, lalu bagaimana dengan kita?
“Pak SBY nggak percaya loh kalau saya bakal sampai (kantor),” kata Andi Mallarangeng sambil tertawa setelah ia tiba di kantornya.
Kisah-Kisah B2W “Ma, B2W, yuk.” “Idih, ogah ah, emang enak 25 kilo nyepeda? Bongkok iya.” “B2W, Ma, B2W, Ma!!!” tunjuknya pada beberapa pesepeda dengan tag kuning khasnya, melewati mobil kami yang terjebak macet. “Hebat ...hebat!” “Oh iya, hebat ya,” sahutku tidak terlalu merespon. Hatiku malah berbisik, Kurang kerjaan. Saat Papa makin cinta sama sepeda, aku sering dikirimi e-mail tentang orang-orang yang B2W. “Banyak yang bersepeda dari Depok lho,” katanya lebih lanjut. Aku hanya mesem-mesem, sambil berkata dalam hati, Hohoho ... banyak juga orang yang kurang kerjaan dari Depok.
Itulah salah satu cerita tentang pasangan suami istri tentang B2W. Pada akhirnya, suami Mama Kintan, yang memuat cerita itu di blognya, kini telah menjadi salah satu penggiat B2W yang aktif. Dan beragam cerita tentang perkenalan mereka dengan B2W pun mengalir di milis-milis, blog-blog, dan website B2W-Indonesia. Hampir semuanya sepakat kalau pada akhirnya sepeda menjadi kendaraan terfavorit dan tercinta, kendati di awalnya hati mereka merasa ragu dan takut untuk memulainya.
“Ada kekhawatiran semula yang sekarang menjadi keyakinan, ada ketakutan di awal yang sekarang justru menjadi kebanggan,” ujar Capunk (42 th) yang ber-B2W dari daerah Harapan Indah - Gatot Subroto.
“Hoi ... ada beruang naik sepeda!” teriak beberapa anak SD ketika melihat Andreas yang bertubuh besar mulai bersepeda. Tetapi kini, baginya hal itu adalah hiburan tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. “Bagi saya yang terpenting adalah cucuran keringat yang menyehatkan dan terpaan angin di wajah yang menyegarkan. Belum pernah sebelumnya saya merasakan kebebasan dan inspirasi seperti ketika mengayuh sepeda seperti sekarang ini. Sambil meluncur sendirian, saya menikmati angin pagi yang mendengungkan sebuah lagu Bicycle Race (Queen) penuh semangat di pikiran,” ujarnya bangga.
“Gila lu ye, ke kantor pake sepeda, gak ada kerjaan ye?!” sahut teman-teman Teko yang ber-B2W dari Pondok Hijau Permai - BEJ. “Gila, lo naek sepeda ke kantor?” teriak teman-teman Lambang Triaji yang ber-B2W dari BSD - Cipete. “Ada motor lo malah naek sepeda?!” sahut yang lain seperti tidak percaya.
“Welcome to the traffic jungle!” jawab Teko dengap mantap menanggapi mereka. “Kalau kerja pake motor atau mobil itu mah sudah umum, biasa, dan lazim. Dan kali ini gue mau yang sedikit unique, x-treem, crazy, dan tentu saja berbeda,” lanjutnya dengan bangga. “Take it easy, concentration, fun and relax, that’s the key.”
Masih banyak lagi cerita-cerita unik, inspiring, lucu, dan semacamnya mengenai hari pertama dalam ber-B2W. Tidak sedikit yang merasakan kegelisahan di malam menjelang mereka akan ber-B2W. Deday yang ber-B2W dengan rute Gajah Mada – Sudirman mengatakan, “Maklum gue agak gelisah seperti kegelisahan gue (saat) mau ngelamar bini gue dulu.” Waduh! Bahkan tidak sedikit yang tidak bisa tidur karena betapa keesokan harinya adalah hari bersejarah mereka. Kendati sebenarnya hal itu tidak dianjurkan karena secara tidak langsung akan berpengaruh pada fisik mereka saat bersepeda. Istirahat yang cukup adalah kunci sebelum bersepeda dengan jarak yang jauh.
“Paha sudah nggak kuat lagi, terpaksa (deh) minggir (untuk) istirahat. Badan serasa digebukin maling (tapi) nggak bisa bales, hehe.... Tapi mo gimana lagi, show must go on. Saya nggak mungkin nyerah gitu aja or naek metro mini sambil naikin sepeda (karena) bisa didamprat orang satu bus. Alhasil, sisa perjalanan digowes dengan pasrah,” ujar M. Fajar Nugraha yang kini ber-B2W dengan rute Tangerang - Menteng mengenang saat pertama kali ber-B2W.
Beberapa di antaranya juga pada akhirnya bisa mengajak anak-anak dan istri mereka untuk mulai bersepeda. Tekad (44 th) selalu bersepeda bersama dengan anaknya sampai di sekolahnya, setelah itu ia melanjutkan ke kantor sendirian. Alan Ridlon dan istri kini selalu ber-B2W bersama dengan rute Depok - Kuningan/Merdeka. Tidak jarang ketika jalanan sedang sepi, mereka bisa bergandengan tangan. Duh, romantisnya.
Sepeda sudah menjadi melekat dengan mereka-mereka yang ber-B2W. Tidak ada kata yang pantas mereka ucapkan selain Amazing dan Unbelievable mengenai hari pertama ber-B2W. Tetapi semuanya itu terpulang kepada individu masing-masing. Kendati sudah banyak nilai positif yang bisa diambil dari kegiatan bersepeda, di luar sana masih banyak orang yang tidak percaya dengan sepeda. Sepeda masih dipandang kuno, kelas bawah, tidak rasional, dan macam-macam. Wajar saja. Semoga kampanye B2W pun tidak menjadi eksklusivitas semata di mana hanya orang-orang tertentu atau sepeda-sepeda tertentu saja yang bisa bergabung. Masih banyak orang-orang yang sudah mulai ber-B2W jauh sebelum kampanye pertama digaungkan, tetapi mereka hanyalah pesepeda yang diawali keterpaksaan.
“B2W-Indonesia bisa sampai seperti saat ini melalui proses panjang, serta melewati pilihan-pilihan yang sebagian sudah kita sadari impact-nya. Salah satunya adalah mengkampanyekan B2W di kalangan pekerja kantoran termasuk eksekutif dengan harapan lebih mudah getok-tular-nya ke yang lain. Yang penting targetnya sama, yaitu tersedianya prasarana bersepeda yang ‘nyaman’ dan ‘aman’ bagi semua pesepeda termasuk rekan-rekan B2W yang lebih dulu eksis keberadaannya,” sahut Ozy yang juga pentolan B2W Indonesia.
Ya, semoga saja. Dan semoga pula bagi para pesepeda yang diawali dengan keterpaksaan, pada akhirnya tetap menjadi sepeda sebagai moda transportasi utama, di mana mereka menggowes pedal sepedanya dengan rasa bangga dan benar-benar menikmati. Krisnawijaya, penggiat B2W lainnya, mengatakan, “Tabahkan hatimu ya, Say. Sorry, bukannya aku nggak cinta. Tapi ini kan juga berkat support kamu. Aku jadi lebih sehat, bugar, bisa ngirit (dikit), bisa ikut ngurangin polusi di Jakarta dan nggak pernah merah lagi absennya.” Betul, kan?[]
|  | Dalam rangka peresmian KOmunitas BErsepeda di lingkungan kampus UI tgl 12 Agustus 2007, KOBE UI telah mengundang b2w-Indonesia untuk memeriahkan acara tersebut.
Acara tersebut adalah berkeliling bersepeda bersama rektor lama (Bpk. Usman) dan rektor baru (Bpk Gumilar) di dalam lingkungan kampus UI Depok (10km). Hadir pula bapak Walikota Depok yang sangat terkesan dengan inisiatif untuk dan berjanji untuk memberi tempat bagi pesepeda di kota Depok, semoga cepat terlaksana Pak.
Saat ini Universitas Indonesia sudah menyiapkan beberapa parkiran sepeda di gedung rektorat dan beberapa fakultasnya, mereka juga sudah memesan sepeda B2W-Indonesia untuk dijadikan sarana transportasi di dalam lingkungan kampus UI.
Dan kemudian UI juga akan menetapkan hari tanpa kendaraan bermotor di dalam kampus UI sehari dalam setahun atau setiap bulannya. UI juga akan menyelenggarakan Kejuaraan Nasional Bersepeda tahunan di trek hutan UI yg sebelumnya trek tersebut akan di perbaiki dan dibuat sesuai standar lomba.
Karena itu sebagai komunitas yg peduli akan dunia persepedaan dan udara yg bersih sudah sepatutnya momentum ini bisa dijadikan batu loncatan besar bagi generasi penerus kita untuk kembali ke sarana transportasi tanpa bahan bakar fossil ini.
|
| Start: | Aug 12, '07 01:00a | | Location: | Kampus Universitas Indonesia Depok |
Dalam rangka peresmian KOmunitas BErsepeda di lingkungan kampus UI tgl 12 Agustus 2007. Kami mengundang rekan-rekan Bike To Worker untuk ikut memeriahkan acara tersebut. Acara itu akan diselenggarakan pada: - 12 Agustus 2007 - Kampus Universitas Indonesia Depok - 07.00 - selesai Acaranya adalah berkeliling bersepeda bersama rektor lama (Bpk. Usman) dan rektor baru (Bpk Gumilar) di dalam lingkungan kampus UI Depok. (10km) Acara ini dimaksudkan untuk menggairahkan kegiatan bersepeda di lingkungan kampus UI dan peresmian Komunitas Bersepeda UI. Universitas Indonesia sendiripun sudah menyiapkan beberapa parkiran sepeda di gedung rektorat dan beberapa fakultasnya, mereka juga sudah memesan sepeda B2W-Indonesia untuk dijadikan sarana transportasi di dalam lingkungan kampus UI. Dan kemudian UI juga akan menetapkan hari tanpa kendaraan bermotor di dalam kampus UI sehari dalam setahun atau setiap bulannya. UI juga akan menyelenggarakan Kejuaraan Nasional Bersepeda tahunan di trek hutan UI yg sebelumnya trek tersebut akan di perbaiki dan dibuat sesuai standar lomba. Karena itu sebagai komunitas yg peduli akan dunia persepedaan dan udara yg bersih sudah sepatutnya kita menghadiri acara yg akan menjadi batu loncatan besar bagi generasi penerus kita untuk kembali ke sarana transportasi tanpa bahan bakar fossil ini. Para peserta tidak dipungut biaya apapun dan tidak diberikan kaos atau goodie bag lainnya, tetapi pihak UI akan berusaha menyiapkan penganan seadanya di tempat finish nanti. Bagi yg berminat hadir harap datang tepat pada waktunya, karena kemungkinan pihak UI akan meminta bantuan B2W untuk menjadi marshall di dalam rombongan bersepeda tersebut. Bike To Work goes to Campus!! BRgrds Mohammad Ali Edwin
| |